MATAPEDIA6.com, LINGGA-Belum sempat benar-benar melepas lelah setelah menyeberangi laut, rombongan sudah berdiri di bawah sebuah tugu. Tak ada garis yang tampak di tanah. Namun sebuah penanda menunjukkan bahwa tempat itu bukan sembarang titik.
Di Tanjung Teludas, Desa Mentuda, Kabupaten Lingga, garis khatulistiwa melintas di bawah kaki para pengunjung. Beberapa jam kemudian, suasana berubah.
Suara mesin perjalanan berganti dengan gemericik air. Di Air Terjun Resun, rombongan berhenti di antara pepohonan dan bebatuan, membiarkan udara sejuk menghapus sisa penat.
Menjelang sore, perjalanan kembali membawa suasana berbeda. Di makam Sultan Mahmud Riayat Syah, suara percakapan mengecil. Langkah melambat.
Perjalanan yang sejak pagi terasa seperti wisata berubah menjadi ziarah dan perjumpaan dengan sejarah.
Dalam sehari, Lingga seperti memperlihatkan tiga wajah sekaligus: bumi yang ditandai garis khatulistiwa, alam yang masih mengalir bebas, dan sejarah Melayu yang terus hidup dalam ingatan.
Semua bermula dari perjalanan rombongan wartawan berbagai media di Batam bersama Bank Indonesia menuju Daik, Senin, (10/8/ 2026), dalam agenda Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026.
Perjalanan itu bukan sekadar agenda mengunjungi sejumlah destinasi. Setiap tempat menghadirkan suasana dan cerita yang berbeda, dari keunikan geografis hingga jejak Kesultanan Riau-Lingga.
Empat Jam di Laut, Sebelum Cerita Dimulai
Pagi itu, Pelabuhan Punggur menjadi titik kumpul. Satu per satu peserta datang. Tas, kamera, telepon genggam, dan perlengkapan perjalanan ikut naik ke kapal.
Setelah rombongan lengkap, kapal bergerak menuju Pelabuhan Sei Tenam. Selama hampir empat jam, laut menjadi pemandangan utama.
Baca juga:Investor Pasar Modal Tembus 30,27 Juta, OJK Perkuat Integritas dan Luncurkan ETF Emas
Batam perlahan tertinggal. Kesibukan kota berganti dengan pulau-pulau yang muncul dari kejauhan. Perjalanan panjang itu membuat kedatangan di Lingga terasa bukan sekadar tiba di sebuah kabupaten lain.
Sekitar pukul 14.50 WIB, kapal tiba di Sei Tenam. Udara terasa berbeda. Lingga menyambut tanpa banyak suara.
Bukit-bukit hijau menjadi latar, sementara jalan dari pelabuhan membawa rombongan menuju Tanjung Teludas. Tujuan pertama adalah Tugu Khatulistiwa Lingga.
Belum banyak fasilitas tersedia di kawasan tersebut. Namun sebuah tugu berdiri sebagai penanda posisi geografis yang membuat Lingga memiliki keunikan tersendiri.
Tugu Khatulistiwa Lingga berdiri di kawasan Tanjung Teludas, tidak jauh dari laut. Bangunannya mungkin tidak sebesar ikon wisata di kota-kota besar.
Tetapi maknanya membuat pengunjung berhenti untuk memperhatikan. Garis khatulistiwa tidak terlihat oleh mata. Ia hanya garis imajiner yang mengelilingi bumi dan membaginya menjadi belahan utara dan selatan.
Rombongan berdiri di dekat tugu, memandang sekeliling. Laut, pepohonan, dan bukit menjadi latar. Perjalanan panjang terasa menemukan alasan ketika titik geografis itu akhirnya terlihat di depan mata.
Lazuardi, staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang sejarah, pelestarian cagar budaya dan permuseuman, menjelaskan keberadaan tugu tersebut sekaligus memperkenalkan posisi geografis Lingga kepada wisatawan.
“Pertama, Tugu Khatulistiwa ini dibangun untuk membuktikan bahwa Pulau Lingga merupakan salah satu wilayah yang dilalui garis khatulistiwa. Yang kedua, tentu untuk tujuan wisatawan,” katanya.
Bingkai menggambarkan peta dunia. Busur menunjukkan arah utara dan selatan. Pasak di bagian tengah menjadi simbol titik nol. Lalu ada keris.
Bentuk itu membawa cerita lebih jauh dari sekadar geografi. Keris merupakan bagian dari identitas Melayu.
Lingga sendiri memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Riau-Lingga yang pernah menjadikan Daik sebagai pusat pemerintahan.
Maka, berdiri di Tugu Khatulistiwa bukan hanya soal mengetahui bahwa Lingga dilintasi garis lintang nol derajat.
Tentang tanah yang berada di tengah bumi, tetapi juga berada di tengah perjalanan panjang sejarah Melayu. Kawasan tugu saat ini masih berbenah.
Jalan menuju lokasi terus diperbaiki dan dikeraskan. Wisatawan belum dikenakan retribusi.
Namun letaknya yang dekat dengan Pelabuhan Sei Tenam membuat tempat ini memiliki peluang menjadi salah satu pintu masuk wisatawan ke Lingga.
Cerita berikutnya menunggu di Resun.
Ketika Suara Air Mengalahkan Percakapan. Sekitar 25 menit perjalanan membawa rombongan ke Desa Resun. Kali ini tidak ada tugu yang harus dilihat. Suara air menyambut lebih dulu.
Semakin mendekat, gemericiknya semakin jelas. Air Terjun Resun mengalir di antara bebatuan kawasan Gunung Sepincan, dikelilingi pepohonan yang membuat suasana terasa jauh dari keramaian.
Setelah perjalanan panjang, kawasan itu menjadi tempat untuk berhenti. Sebagian anggota rombongan yang dominan wartawan mengeluarkan telepon genggam dan kamera.
Sebagian lainnya memilih berdiri lebih lama di dekat aliran air. Tidak ada yang terburu-buru. Air terus jatuh. Angin bergerak di antara pepohonan.
Percakapan yang sejak tadi ramai perlahan digantikan suara alam. Ada sesuatu yang sederhana dari Resun. Tidak banyak yang perlu diterangkan. Tempat itu cukup dinikmati.
Kawasan Air Terjun Resun berada di sekitar Gunung Sepincan dan dikenal memiliki jalur menuju kawasan perbukitan, termasuk Bukit Permata.
Rombongan wartawan di Tugu Khatulistiwa Lingga Foto:Rega/matapedia
Bagi Lingga, Resun menjadi pengingat bahwa kekuatan pariwisata tidak hanya berasal dari peninggalan masa lalu. Alam yang masih terjaga juga memiliki cerita dan daya tariknya sendiri.
Namun perjalanan hari itu belum selesai. Rombongan kembali bergerak menuju Daik. Kali ini, tujuan bukan sekadar melihat. Perjalanan berlanjut untuk mengenang. Saat Langkah Menjadi Lebih Pelan.
Menjelang sore, rombongan tiba di kawasan Masjid Sultan Lingga dan makam Sultan Mahmud Riayat Syah. Suasana langsung berubah.
Tidak ada lagi suara air terjun. Tidak ada lagi pembicaraan tentang garis khatulistiwa. Kawasan makam membuat orang secara alami menurunkan volume suara.
Ziarah menjadi bagian dari perjalanan. Di hadapan makam Sultan Mahmud Riayat Syah, sejarah yang selama ini terasa seperti cerita dalam buku menjadi lebih dekat.
Ia bukan sekadar nama. Ia merupakan bagian dari perjalanan Kesultanan Riau-Lingga dan sejarah panjang Melayu di Kepulauan Riau. Rombongan berhenti.
Mengenang. Membaca kembali nama dan jejak yang ditinggalkannya. Waktu berjalan jauh setelah masa pemerintahannya, tetapi makam itu tetap didatangi. Nama itu tetap disebut. Sejarahnya tetap menjadi bagian dari identitas Daik.
Di titik tersebut, perjalanan wisata berubah menjadi perjalanan batin yang sederhana.
Ada rasa hormat. Ada rasa ingin tahu.
Dan ada kesadaran bahwa tanah yang sedang dipijak pernah menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban Melayu.
Dari makam, perjalanan berlanjut menuju Situs Kerajaan Lingga, termasuk Istana Damnah dan Museum Linggam Cahaya.
Potongan cerita yang ditemui sepanjang hari mulai menyatu. Tugu Khatulistiwa bercerita tentang posisi bumi. Resun bercerita tentang alam. Makam Sultan, istana, dan museum bercerita tentang manusia dan sejarah.
Tiga cerita itu bertemu di satu tempat bernama Lingga. Lingga yang Tidak Hanya untuk Dilihat
Perjalanan sehari mungkin terlalu singkat untuk mengenal Lingga sepenuhnya.
Namun satu hari cukup untuk menyadari bahwa daerah ini memiliki kekayaan yang tidak berdiri sendiri. Tugu Khatulistiwa bisa menjadi pintu masuk.

Air Terjun Resun bisa menjadi tempat wisatawan memperpanjang perjalanan. Sejarah Kesultanan Riau-Lingga dapat menjadi alasan untuk tinggal lebih lama.
Di antara semuanya, masyarakat lokal menjadi bagian paling penting. Wisatawan yang datang bukan hanya membutuhkan tempat untuk difoto. Mereka membutuhkan pengalaman.
Mereka membutuhkan cerita, makanan, kerajinan, produk lokal, dan interaksi dengan masyarakat. Di situlah pariwisata dapat bertemu dengan ekonomi.
Tema Road to Gebyar Melayu Pesisir 2026, “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”, terasa dekat dengan kenyataan yang terlihat di lapangan.
Warisan tidak harus berhenti sebagai benda tua. Warisan bisa menjadi alasan orang datang. Warisan bisa menghidupkan usaha.
Warisan bisa membuka ruang bagi UMKM dan ekonomi kreatif. Tetapi satu hal tetap penting: jangan sampai ketika warisan dijadikan komoditas wisata, ceritanya justru hilang.
Sebab yang membuat Lingga menarik bukan hanya tempatnya. Melainkan kisah yang melekat pada tempat-tempat itu. Yang Tertinggal Setelah Perjalanan
Hari mulai beranjak sore ketika perjalanan mendekati akhir. Rombongan datang ke Lingga dengan kamera dan catatan. Namun perjalanan itu meninggalkan lebih banyak dari sekadar dokumentasi.
Ada bayangan garis khatulistiwa yang sebenarnya tak pernah terlihat. Ada suara Air Terjun Resun yang masih terngiang setelah meninggalkan kawasan Gunung Sepincan.
Ada suasana hening ketika berdiri di makam Sultan Mahmud Riayat Syah. Dan ada kesadaran bahwa sebuah pulau tidak pernah hanya tentang bentang alamnya.
Baca juga:IMM Kepri Apresiasi Iman Sutiawan dan Polda Kepri atas Kontribusi Pendidikan dan Keamanan
Penulis:Zalfirega|Editor:Trio










