KPK Tangkap 3 DPRD OKU dan Kepala Dinas, Terlibat Skandal Suap RAPBD 2025

Minggu, 16 Maret 2025 - 20:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua KPK, Setyo Budiyanto saat memberikam keterangan pers operasi tangkap tangan terhadap anggota DPRD dan kepala dinas di Kabupaten Oku, Minggu (16/3/2025). Matapedia6.com/Screenshot youtobe KPK

Ketua KPK, Setyo Budiyanto saat memberikam keterangan pers operasi tangkap tangan terhadap anggota DPRD dan kepala dinas di Kabupaten Oku, Minggu (16/3/2025). Matapedia6.com/Screenshot youtobe KPK

MATAPEDIA6.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bongkar praktik korupsi di daerah. Tiga anggota DPRD Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, bersama kepala Dinas PUPR dan dua pihak swasta ditetapkan sebagai tersangka kasus suap dan gratifikasi terkait pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2025.

Ketiga anggota DPRD yang ditangkap adalah Ferlan Juliansyah (FJ), anggota Komisi III DPRD OKU, M. Fahrudin (MFR), Ketua Komisi III dan Umi Hartati (UH), Ketua Komisi II.

Mereka diduga meminta jatah pokok-pokok pikiran (pokir) sebesar Rp 40 miliar untuk meloloskan RAPBD 2025.

Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menjelaskan kasus ini bermula pada Januari 2025 ketika beberapa perwakilan DPRD OKU menemui pemerintah daerah dan meminta jatah pokir dalam bentuk proyek.

“Kesepakatan ini dibuat dengan Kepala Dinas PUPR OKU, Novriansyah (NOP), yang kemudian mengalokasikan proyek senilai Rp 35 miliar dengan fee 20 persen atau Rp 7 miliar untuk para anggota DPRD,” kata Ketua KPK, Setyo Budiyanto saat konferensi pers di Jakarta, Minggu (16/3/2025).

Seiring dengan kesepakatan tersebut, anggaran Dinas PUPR dalam APBD 2025 melonjak dari Rp 48 miliar menjadi Rp 96 miliar.

KPK mengungkapkan bahwa dana hasil suap ini disalurkan melalui sembilan proyek infrastruktur di OKU, termasuk rehabilitasi rumah dinas bupati dan wakil bupati, pembangunan kantor Dinas PUPR, serta peningkatan sejumlah jalan desa.

KPK bergerak cepat setelah mendapatkan informasi adanya pencairan dana suap menjelang Hari Raya Idulfitri.

Pada 11 Maret 2025, sejumlah anggota DPRD OKU bertemu dengan Kepala Dinas PUPR dan pejabat daerah untuk mengurus pencairan uang muka proyek.

Pada 13 Maret 2025, pihak swasta yang terlibat, M. Fauzi alias Pablo (MFZ) dan Ahmad Sugeng Santoso (ASS), menyerahkan uang suap kepada Novriansyah.

Sebanyak Rp 2,2 miliar dititipkan ke seorang pegawai negeri sipil di Dinas Perkim OKU, sementara Rp 1,5 miliar diterima langsung oleh Novriansyah, yang sebagian digunakan untuk membeli mobil Fortuner.

Puncaknya, pada 15 Maret 2025 pukul 06.30 WIB, tim KPK menggerebek rumah Novriansyah dan menemukan uang tunai Rp 2,6 miliar.

Secara simultan, tim KPK juga mengamankan Ferlan Juliansyah, M. Fahrudin, dan Umi Hartati di kediaman masing-masing.

Tak hanya itu, dua pihak swasta, MNZ dan ASS, serta seorang pegawai negeri sipil turut diamankan.

Dari operasi ini, KPK menyita sejumlah barang bukti, termasuk dokumen, alat komunikasi, serta satu unit mobil Fortuner dengan nomor polisi 1851 ID yang dibeli dari uang suap.

KPK menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus ini, terdiri dari anggota DPRD, kepala dinas, dan pihak swasta. Mereka adalah:

  1. Novriansyah alias NOP – Kepala Dinas PUPR OKU
  2. Ferlan Juliansyah alias FJ – Anggota Komisi III DPRD OKU
  3. M. Fahrudin alias MFR – Ketua Komisi III DPRD OKU
  4. Umi Hartati alias UH – Ketua Komisi II DPRD OKU
  5. M. Fauzi alias Pablo (MFZ) – Pihak swasta
  6. Ahmad Sugeng Santoso (ASS) – Pihak swasta

Para tersangka ditahan selama 20 hari, mulai 16 Maret hingga 4 April 2025. FJ, MFR, dan UH ditahan di Rutan Kelas I Jakarta Timur, sedangkan NOP, MFZ, dan ASS ditempatkan di Rutan KPK di Kuningan, Jakarta.

Kasus ini semakin menegaskan praktik korupsi masih merajalela di pemerintahan daerah.

Dengan terbongkarnya skandal suap ini, KPK menegaskan komitmennya dalam memberantas korupsi, khususnya dalam pengelolaan anggaran daerah.

Masyarakat kini menanti langkah lanjutan dari KPK dalam mengusut tuntas kasus ini dan memastikan para pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Penulis: Luci |Editor: Meizon

Berita Terkait

Sidang Perdana Kematian Bripda Natanael, Teriakan ‘Hukum Mati’ Menggema di PN Batam
Kepala Sekolah SMA Taruna Kepri Ditangkap Polisi, Diduga Gelapkan Uang Sekolah
Polisi Ungkap Kronologi Kasus Viral Homestay Bengkong, Tujuh Tersangka Pengeroyokan dan Satu Tersangka Penganiayaan
Rayap Besi Putus Kabel Tower, Jaringan Indosat Sempat Terganggu, Polsek Sagulung Tangkap Terduga Pelaku
Polisi Ungkap Pembacokan di Parkiran Hotel Kundur, Pelaku Dibekuk Saat Tidur di Kos
Empat Tersangka Kasus Tewasnya Bripda Natanael Resmi Dilimpahkan ke Kejari Batam, Jaksa Siapkan Dakwaan
Polsek Nongsa Ungkap Curanmor di Kabil, Tiga Terduga Pelaku dan Motor Curian Diamankan
WN Malaysia Diperas dan Dianiaya di Hotel Batam, Polisi Bekuk Dua Terduga Pelaku dalam Sehari
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 17:29 WIB

Sidang Perdana Kematian Bripda Natanael, Teriakan ‘Hukum Mati’ Menggema di PN Batam

Rabu, 29 Juli 2026 - 20:39 WIB

Kepala Sekolah SMA Taruna Kepri Ditangkap Polisi, Diduga Gelapkan Uang Sekolah

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:08 WIB

Polisi Ungkap Kronologi Kasus Viral Homestay Bengkong, Tujuh Tersangka Pengeroyokan dan Satu Tersangka Penganiayaan

Senin, 20 Juli 2026 - 14:10 WIB

Rayap Besi Putus Kabel Tower, Jaringan Indosat Sempat Terganggu, Polsek Sagulung Tangkap Terduga Pelaku

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:32 WIB

Polisi Ungkap Pembacokan di Parkiran Hotel Kundur, Pelaku Dibekuk Saat Tidur di Kos

Berita Terbaru