MATAPEDIA6.com, BATAM – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, meresmikan Migrant Center di Batam Tourism Polytechnic (BTP) di Tiban, Kecamatan Sekupang, Batam, Senin (8/6/2026) malam.
Kehadiran pusat layanan tersebut membuka jalur baru bagi mahasiswa BTP untuk menembus pasar kerja internasional secara lebih terstruktur dan terlindungi.
Mukhtarudin mengatakan BTP menjadi salah satu kampus yang dinilai siap mencetak tenaga kerja terampil untuk kebutuhan pasar global.
Penilaian itu ia sampaikan setelah meninjau langsung fasilitas praktik mahasiswa mulai dari bidang kuliner, barista, tata hidangan hingga berbagai laboratorium penunjang lainnya.
“Saya cukup terkejut. Jauh dari ekspektasi saya. Fasilitas dan praktik yang dimiliki BTP sangat baik. Bahkan saya melihat ada mahasiswa semester enam yang sedang magang di Hong Kong dan sejumlah negara lain, kemudian sebagian di antaranya melanjutkan bekerja di luar negeri,” kata Mukhtarudin.
Baca juga:Sukses Menata Honorer Menjadi PPPK, Pemko Batam Usulkan Relaksasi Belanja Pegawai ke Pusat
Menurut dia, pemerintah saat ini tengah memperkuat kualitas pekerja migran Indonesia sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Fokusnya tidak hanya pada perlindungan pekerja migran, tetapi juga peningkatan keterampilan agar mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Melalui Migrant Center, mahasiswa akan mendapatkan pendampingan sejak awal, mulai dari penguatan keterampilan teknis, kemampuan bahasa asing, kesiapan mental, kesehatan hingga proses penempatan kerja ke luar negeri.
“Kami ingin membangun ekosistem dari hulu sampai hilir. Mahasiswa tidak hanya lulus, tetapi juga memiliki akses yang jelas menuju pasar kerja global,” ujarnya.
Mukhtarudin menilai BTP memiliki modal kuat karena telah memiliki empat program studi yang sangat relevan dengan kebutuhan industri internasional, yakni Manajemen Kuliner, Manajemen Tata Hidangan, Manajemen Divisi Kamar, serta Magister Terapan Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata.
Ia menyebut kebutuhan tenaga kerja global saat ini terus meningkat, terutama di sektor perhotelan, hospitality, kesehatan, caregiver, hingga berbagai sektor jasa lainnya.

Negara-negara seperti Jepang, Hong Kong, Australia, Jerman, Turki hingga sejumlah negara Eropa disebut membutuhkan tenaga kerja terampil dalam jumlah besar.
“Kami melihat peluang yang sangat besar. Yang penting adalah menyiapkan skill, bahasa, dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional,” katanya.
Mukhtarudin mengungkapkan pemerintah menargetkan sedikitnya 500 calon tenaga kerja dapat terserap ke pasar kerja luar negeri sepanjang tahun ini. Program tersebut menjadi bagian dari agenda percepatan atau quick wins pemerintah dalam memperluas akses kerja global bagi generasi muda Indonesia.
Selain membuka peluang kerja, keberadaan Migrant Center juga diharapkan meningkatkan kualitas dan daya saing kampus.
Mukhtarudin bahkan mendorong BTP untuk membentuk Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) sendiri agar layanan penempatan dapat dilakukan secara terpadu dalam satu kawasan kampus.
“Kalau memungkinkan nanti ada one stop service di BTP. Mahasiswa bisa mendapat pelatihan, sertifikasi, pembekalan hingga akses penempatan dalam satu ekosistem,” ujarnya.
Mukhtarudin juga memaparkan potensi besar pasar kerja luar negeri yang saat ini tersedia bagi pekerja Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI) per 4 Juni 2026, terdapat 308.779 lowongan kerja luar negeri yang tersedia, dengan 233.401 di antaranya masih belum terisi.
Sektor yang paling banyak membutuhkan tenaga kerja antara lain pekerjaan domestik, kesehatan, manufaktur, hospitality, konstruksi, pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan.
Adapun negara tujuan terbesar meliputi Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Bulgaria, Brunei Darussalam dan Slovakia.
Di sisi lain, remitansi pekerja migran Indonesia pada 2025 tercatat mencapai Rp288 triliun. Pemerintah meyakini peningkatan kualitas tenaga kerja akan berdampak langsung pada kenaikan remitansi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah asal pekerja migran.
“Bukan hanya soal bekerja di luar negeri. Ada dampak ekonomi yang besar bagi keluarga dan daerah. Remitansi menggerakkan ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan, dan membuka peluang usaha baru,” kata Mukhtarudin.
Ia berharap kerja sama antara pemerintah dan perguruan tinggi seperti BTP dapat mempercepat lahirnya talenta-talenta Indonesia yang siap bersaing di pasar kerja global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok tenaga kerja terampil dunia.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Vitka BTP, Asman Abnur, mengatakan Batam memiliki keunggulan tersendiri dibanding banyak daerah lain di Indonesia karena kedekatannya dengan pasar internasional.
Menurut mantan Menteri PANRB tersebut, posisi Batam yang berhadapan langsung dengan Singapura dan Malaysia membuat orientasi global menjadi kebutuhan sekaligus peluang yang harus dimanfaatkan dunia pendidikan.
Asman menilai mahasiswa tidak cukup hanya memperoleh ijazah. Mereka juga harus dibekali pengalaman kerja internasional agar mampu menunjukkan bahwa sumber daya manusia Indonesia memiliki kemampuan yang tidak kalah dibanding tenaga kerja dari negara lain.
Ia mencontohkan sektor hospitality dan kuliner yang terus berkembang di Batam. Arus wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang datang setiap akhir pekan turut mendorong kebutuhan tenaga kerja profesional di bidang tersebut.
“Batam sejak awal memang dibangun dengan orientasi internasional. Karena itu kita harus menyiapkan lulusan yang mampu bersaing bukan hanya di tingkat lokal, tetapi juga global,” kata Asman.
Baca juga:Ketua DPRD Batam Respons Permohonan RDP Warga Kampung Belian Terkait Rencana Relokasi
Penulis:Zalfirega|Editor:Miezon
















