MATAPEDIA6.com, JAKARTA – Jumlah investor pasar modal Indonesia terus melonjak. Hingga 7 Agustus 2026, jumlah Single Investor Identification (SID) menembus 30,27 juta atau tumbuh 48,67 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu membawa tantangan baru bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di tengah semakin luasnya partisipasi masyarakat, OJK menempatkan integritas pasar modal sebagai prioritas untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat fondasi pasar keuangan nasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, mengatakan OJK akan terus memperkuat likuiditas, transparansi, tata kelola, penegakan aturan, serta sistem pengawasan pasar modal.
“OJK berkomitmen untuk terus meningkatkan likuiditas, transparansi, tata kelola dan enforcement serta sinergitas sebagai bagian dari rencana aksi reformasi integritas di Pasar Modal Indonesia,” kata Friderica dalam peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Menurut Friderica, pertumbuhan jumlah investor bukan sekadar angka. Lonjakan hingga 30,27 juta SID menunjukkan semakin besarnya kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap pasar modal.
“Tidak hanya sekadar pertumbuhan jumlah investor, tetapi makna di balik itu bahwa ada trust, ada confidence, ada harapan masyarakat Indonesia terhadap pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Baca juga:IMM Kepri Apresiasi Iman Sutiawan dan Polda Kepri atas Kontribusi Pendidikan dan Keamanan
OJK Luncurkan ETF Emas
Di tengah agenda memperkuat integritas pasar, OJK bersama pemangku kepentingan pasar modal juga meluncurkan Exchange Traded Fund (ETF) EEma.
OJK memasukkan ETF Emas sebagai salah satu quick win dari delapan rencana aksi reformasi pasar modal, khususnya dalam agenda pendalaman pasar secara terintegrasi.
Friderica menyebut ETF Emas menawarkan alternatif investasi yang praktis dan likuid. Produk ini juga memiliki karakteristik safe haven serta membuka peluang memperluas ekosistem Pasar Bullion melalui kolaborasi antar lembaga dan pelaku industri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap kehadiran ETF Emas tidak hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga mendorong likuiditas pasar.
“Diharapkan produk ini tidak hanya menambah pilihan investasi tetapi juga meningkatkan likuiditas,” kata Airlangga.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung turut mendukung peluncuran instrumen tersebut. Menurut dia, ETF Emas dapat memperluas basis investor, memperkaya pilihan instrumen, meningkatkan likuiditas, sekaligus memperkuat tata kelola pasar modal.
Dana Rp123,21 Triliun Masuk Pasar Modal
OJK mencatat pasar modal Indonesia telah menghimpun dana Rp123,21 triliun hingga 7 Agustus 2026 melalui 135 aksi korporasi. Jumlah perusahaan yang tercatat sebagai emiten juga telah melampaui 962 perusahaan.
Pertumbuhan investor turut diikuti peningkatan dana kelolaan. Nilai Aktiva Bersih reksa dana mencapai Rp667 triliun, sedangkan Asset Under Management (AUM) berada di level Rp1.026 triliun.
Menariknya, mayoritas investor pasar modal kini berasal dari kelompok usia muda. Sekitar 78 persen investor berusia di bawah 40 tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap instrumen investasi sekaligus meningkatnya kebutuhan terhadap produk investasi yang beragam.
“Capaian ini menunjukkan bahwa Pasar Modal Indonesia terus tumbuh, baik dari sisi kemampuan menghimpun dana bagi dunia usaha maupun dari sisi perluasan basis investor,” ujar Hasan.
Integritas Jadi Agenda Besar
OJK kini mendorong sejumlah kebijakan untuk memperkuat struktur dan integritas pasar modal.
Salah satunya dengan meningkatkan persyaratan minimum free float menjadi 15 persen, menyusun kerangka aturan terkait High Shareholder Concentration (HSC), serta meningkatkan transparansi kepemilikan saham.
Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda reformasi pasar modal hingga 2027.
OJK juga mendorong pendalaman pasar dari sisi supply dan demand, peningkatan kualitas emiten dan perusahaan publik, penguatan kelembagaan pelaku usaha jasa keuangan, peningkatan keamanan siber, serta pengembangan keuangan berkelanjutan.
Airlangga menilai reformasi tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Pasar modal selalu merupakan proksi ekonomi yang dilihat oleh para investor terutama pada saat-saat yang sangat strategis,” kata Airlangga.
Pada Juni 2026, Indonesia juga kembali bertahan dalam klasifikasi Emerging Market dalam MSCI Market Classification Review.
Bagi OJK, capaian tersebut menjadi bagian dari proses panjang memperkuat kepercayaan dan daya saing pasar modal Indonesia.
Dengan jumlah investor yang terus bertambah dan instrumen investasi yang semakin beragam, penguatan integritas menjadi kunci agar pertumbuhan pasar modal tidak hanya besar secara angka, tetapi juga semakin terpercaya.
Baca juga:Program Cadiak Pandai Pertamina Raih Platinum TJSL & CSR Award 2026
Editor:Zalfirega










