MATAPEDIA6.com, BATAM-Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan dugaan penolakan pasien anak di Klinik Kimia Farma Sekupang, Batam.
Video itu memicu perhatian luas publik setelah seorang ayah merekam kondisi anaknya yang muntah-muntah namun disebut tidak mendapat penanganan medis sebagaimana mestinya.
Dalam rekaman yang beredar luas di media sosial dilihat pada Senin (25/5/2026) tampak sang ayah terdengar mempertanyakan alasan dokter tidak memeriksa anaknya meski waktu pelayanan dinilai belum berakhir.
“Yang penting gak bisa diperiksa ya buk, ini belum jam 9. Tengok ini udah muntah. Anak kecil ini, Kimia Farma Sekupang,” ucap pria tersebut dalam video.
Ia kemudian meluapkan kekecewaannya karena merasa anaknya dibiarkan tanpa pertolongan.
“Dokternya gak bisa periksa katanya. Inilah ah, katanya kenapa kok sakit. Siapa yang mau sakit,” katanya.
Video itu semakin menjadi sorotan setelah terdengar percakapan antara keluarga pasien dengan dokter perempuan yang berada di lokasi.
Saat direkam, dokter tersebut beberapa kali menyebut kalimat “lapor aja” yang memicu reaksi keras warganet.
“Lapor aja, lapor aja, lapor aja,” ucap dokter perempuan dalam video tersebut.
Baca juga:Kajati Kepri Lantik Sejumlah Pejabat Eselon IV, Tekankan Integritas dan Penguatan Penegakan Hukum
“Ya udah pak,” tambahnya yang oleh publik dinilai seperti mempersilakan pasien pulang.
Ketika sang ayah kembali bertanya apakah anaknya dibiarkan begitu saja, dokter tersebut menjawab singkat, “Ya.”
Sang ayah pun menilai anaknya seperti ditelantarkan saat membutuhkan pertolongan medis.
“Dibiarkan saja pasien terlantar. Karena mungkin BPJS, karena mungkin kami pakai BPJS. Ini dah muntah. Ini anak kecil, okelah makasih Kimia Farma,” ujarnya dengan nada kesal.
Ia juga sempat menyindir pelayanan klinik tersebut di akhir video.
“Ah, gitu ditulis. Jangan 21.00. Ini dokternya, dokter paling baik se-Kota Batam. Makasih banyak buk dokter terhormat, status dokter,” pungkasnya.
Video viral itu langsung memancing beragam komentar publik. Sebagian besar mengecam sikap tenaga medis yang dianggap tidak memiliki empati terhadap pasien anak.
Namun sebagian netizen lain meminta masyarakat tidak terburu-buru menghakimi sebelum mengetahui kronologi lengkap kejadian.
Salah satu akun TikTok bernama @LUNA menilai pelayanan fasilitas kesehatan tetap memiliki aturan operasional yang harus dipatuhi.
“Halo, saya izin menanggapi berita ini berdasarkan POV dari dokternya ya. Pertama, pasien datang 3 menit sebelum jam 21.00. Perlu dipahami juga bahwa dalam pelayanan BPJS/FKTP umumnya ada batas waktu pendaftaran sebelum jam operasional berakhir, sering kali ditutup 30 menit sebelum jam tutup layanan,” tulis akun tersebut di media sosial@Tiktok
Akun itu juga menyebut pasien tetap wajib ditangani apabila sudah terdaftar sesuai ketentuan sebelum batas waktu pelayanan.
“Namun apabila pasien sudah terdaftar sesuai ketentuan sebelum batas tersebut, maka pasien tetap menjadi tanggung jawab pelayanan dan wajib ditangani,” lanjut komentar itu.
Selain itu, akun tersebut mempertanyakan apakah kondisi pasien masuk kategori emergensi atau tidak karena fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki keterbatasan pelayanan untuk kasus tertentu.
“Yang jadi pertanyaan, sejak kapan anak ini demam dan muntah sebelum dibawa ke faskes? Apakah kondisinya masuk kriteria emergensi karena faskes tidak untuk kasus emergensi,” tulisnya lagi.
Meski demikian, reaksi publik terus bergulir karena masyarakat menilai kondisi pasien anak semestinya tetap menjadi prioritas pelayanan.
PT Kimia Farma Diagnostika Minta Maaf
Menanggapi viralnya video tersebut, PT Kimia Farma Diagnostika menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien sekaligus melakukan investigasi internal untuk mengetahui fakta secara menyeluruh.
Narahubung perusahaan, Anisa Husnu, mengatakan pihaknya telah bertemu langsung dengan keluarga pasien pada Minggu (24/5/2026) guna mendengarkan kronologi kejadian dan menerima masukan dari pihak keluarga.
“Perusahaan berkomitmen menjaga kualitas pelayanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” ujar Anisa dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi media ini, Senin (25/5/2026).
Anisa menegaskan Kimia Farma Diagnostika menjadikan keselamatan pasien sebagai prioritas utama dalam setiap pelayanan kesehatan.
Menurutnya, perusahaan juga terus berupaya menjaga standar pelayanan yang sesuai prosedur serta menjunjung etika profesi tenaga kesehatan.
“Kami memahami perhatian masyarakat terhadap kejadian ini dan kami menghargai setiap masukan yang disampaikan publik sebagai bahan evaluasi,” katanya.
Kepala Kimia Farma Batam, Heru, juga menyampaikan bahwa perusahaan telah meminta maaf kepada keluarga pasien dan berjanji melakukan evaluasi serta perbaikan pelayanan internal.
“Alhamdulillah kami diterima keluarga pasien dengan baik. Kami sudah menyampaikan permohonan maaf dan akan segera melakukan perbaikan internal,” kata Heru.
Ia memastikan manajemen akan mengevaluasi pelayanan di Klinik Kimia Farma Sekupang agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Kami akan melakukan pembinaan dan perbaikan pelayanan supaya masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik,” ujarnya.
Tanggapan Dinkes Batam
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, ikut turun tangan merespons polemik yang berkembang di masyarakat. Ia mengaku telah menghubungi pihak manajemen Klinik Kimia Farma Sekupang agar dokter yang terlibat segera dibina.
“Tadi aku sudah hubungi GM-nya Pak Heru dan manajernya dr Imelda agar dokternya ditegur dan dilakukan pembinaan,” ujar Didi.
Menurut Didi, tindakan dokter tersebut bukan kebijakan resmi perusahaan melainkan perilaku oknum tenaga medis.
“Itu bukan policy perusahaan, tapi oknum dokternya. Paling juga nanti ditegur BPJS itu,” tegasnya.
Baca juga:Satgas PASTI Hentikan Dugaan Penipuan Berkedok Investasi Appeninc, VID, dan Sensenowai
Dinas Kesehatan Batam juga menurunkan tim untuk memeriksa dugaan pelanggaran etika pelayanan dan SOP jam operasional klinik.
“Pelanggaran yang jelas secara etika terkait jam pelayanan dan SOP yang telah lewat waktu sedang turun tim kita ngecek,” katanya.
Tanggapan Anggota DPRD Kota Batam
Sorotan keras juga datang dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kota Batam, H. Arlon Veristo, mengecam dugaan penolakan pasien tersebut dan meminta seluruh fasilitas kesehatan mengutamakan keselamatan pasien di atas persoalan administratif.
Ia menegaskan pasien, terlebih anak-anak, tidak boleh dibiarkan tanpa penanganan saat datang dalam kondisi sakit.
“Pelayanan kesehatan harus mengedepankan kemanusiaan. Pasien tidak boleh ditelantarkan, apalagi anak kecil dalam kondisi muntah-muntah,” tegas Arlon.
Arlon meminta manajemen Kimia Farma melakukan evaluasi serius terhadap tenaga medis dan sistem pelayanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang di Batam.
Menurutnya, fasilitas kesehatan harus menjaga empati dan komunikasi kepada pasien maupun keluarga pasien agar persoalan pelayanan tidak memicu keresahan publik.
Baca juga:Satgas PASTI Hentikan Dugaan Penipuan Berkedok Investasi Appeninc, VID, dan Sensenowai
Editor:Zalfirega
















