MATAPEDIA6.com, BATAM – Upaya pencarian terhadap Azzair Ruknuddin Baibars (2), bocah yang hanyut di saluran drainase kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, masih terus berlangsung.
Memasuki hampir 28 jam sejak dilaporkan hilang, tim SAR gabungan bersama warga masih berjuang menemukan korban yang diduga terseret arus deras saat hujan mengguyur wilayah tersebut.
Sejak Selasa (23/6/2026) pagi, tim SAR melakukan penyisiran intensif mulai dari saluran drainase hingga ke perairan laut yang menjadi muara aliran air dari lokasi kejadian. Namun hingga siang hari, pencarian belum membuahkan hasil.
Komandan Pos (Danpos) Basarnas Batam, Dedius Febrianto Sembiring, mengatakan penyisiran dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan menyusuri saluran drainase sepanjang hampir dua kilometer.
“Setelah penyisiran drainase selesai, pencarian dilanjutkan ke wilayah laut dengan area pencarian yang terus diperluas,” ujar Dedius.
Baca juga: Terpeleset Saat Bermain Hujan, Bocah 2 Tahun Hanyut Masuk Drainase di Tanjung Sengkuang
Menurutnya, tim sempat menghadapi kendala akibat kondisi air yang surut. Perahu karet yang digunakan tidak dapat bergerak maksimal karena dangkalnya saluran drainase.
Karena itu, tim memilih tetap bersiaga sambil menunggu air laut pasang untuk melanjutkan pencarian secara lebih optimal.
“Air mulai pasang sekitar pukul 11.00 WIB dan diperkirakan mencapai pasang tertinggi sekitar pukul 14.00 WIB. Kami tetap siaga untuk melanjutkan penyisiran,” katanya.
Hingga kini, tim SAR masih belum dapat memastikan apakah korban sudah terbawa hingga ke laut atau masih berada di sepanjang saluran drainase.
Berbagai titik yang berpotensi menjadi lokasi korban tersangkut telah diperiksa secara menyeluruh, termasuk kubangan-kubangan air yang terbentuk di sepanjang aliran drainase.
“Kami sudah mengecek sejumlah titik yang berpotensi menjadi tempat korban tersangkut, tetapi hasilnya masih nihil,” jelas Dedius.
Baca juga: Rekan Kerja dan Kerabat Ungkap Kronologi Pekerja Galangan Tenggelam saat Menyelam di PT LOI Batam
Ia menambahkan, kondisi drainase yang dipenuhi sedimentasi cukup tebal menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian.
Endapan lumpur yang menumpuk dikhawatirkan dapat menghambat pergerakan korban maupun menyulitkan proses penyisiran.
Dedius juga menjelaskan bahwa apabila korban telah sampai ke laut, umumnya tubuh korban baru akan muncul ke permukaan setelah dua hingga tiga hari.
Namun apabila tertimbun sedimen di dalam drainase, proses tersebut bisa berlangsung lebih lama.
“Kalau sudah berada di laut biasanya dua sampai tiga hari baru mengapung. Tetapi jika tertanam dalam sedimen, waktunya bisa lebih lama,” ujarnya.
Sementara itu, memasuki hari kedua pencarian, suasana haru masih menyelimuti kawasan Tanjung Sengkuang.
Baca juga: Tragedi Laut di Perairan Setokok, Speedboat Tenggelam 6 Selamat dan 7 Masih Hilang
Sejumlah warga terlihat bertahan di sekitar bantaran sungai dan muara sejak pagi, berharap ada kabar baik mengenai keberadaan bocah tersebut.
Ketua RW 12 Tanjung Sengkuang, Mahdi, mengatakan warga tidak pernah berhenti melakukan pemantauan sejak malam pertama korban dinyatakan hilang.
“Sepanjang malam warga tetap berjaga di ujung saluran hingga muara sungai sambil menunggu air laut surut,” katanya.
Saat air mulai surut sekitar pukul 03.30 WIB, warga langsung bergerak menuju muara untuk melakukan pemantauan lebih intensif.
“Subuh tadi sekitar pukul 03.30 WIB air mulai surut. Warga langsung menunggu di muara sungai dengan harapan korban bisa terlihat. Namun sampai sekarang masih belum ada hasil,” ujarnya.
Kondisi saluran drainase dan sungai di sekitar lokasi kejadian kini jauh berbeda dibanding sehari sebelumnya. Debit air terus menurun hingga sebagian besar dasar saluran mulai terlihat. Meski demikian, keberadaan korban masih belum diketahui.
Diketahui, korban bernama Azzair Ruknuddin Baibars (2), anak ketiga dari pasangan Didik Supriyanto dan Chatarina. Korban memiliki dua kakak, yakni Hagia Sophia dan Al Mutaksir.
Baca juga: KSOP Batam Evakuasi 9 Awak MV Golden Star 1 yang Tenggelam di Selat Singapura
Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin (22/6/2026) pagi saat hujan deras mengguyur kawasan Tanjung Sengkuang.
Saat bermain di sekitar rumah, korban diduga terpeleset dan terseret arus deras hingga masuk ke saluran drainase yang bermuara ke sungai.
Penulis: Luci |Editor:Zalfirega
















